Selasa, 24 Februari 2015

Cagar Budaya di Magetan Terancam Punah

Parang, Dua cagar budaya berupa masjid tua di Magetan, Jawa Timur, kian terancam, karena tidak dapat perhatian dari pemerintah. 

Salah satu masjid tersebut diberi nama At-Taqwa pada 1970-an. Masjid ini dipercaya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Masjid dengan kubah batu tersebut dibangun oleh salah seorang Punggawa Magetan, H Imam Nawawi. Hingga saat ini, masjid tersebut masih dipercayakan kepada salah satu menantunya, H Hamid, 65. 

H Hamid mengisahkan, Masjid cagar budaya At-Taqwa berdiri sejak 1850 di Dusun Badegan, Desa Tegal Arum, Kecamatan Parang, Magetan ini dibangun dengan luas sekitar 8x20 meter. Masjid ini diangun dengan delapan kayu jati yang menopang berdirinya atap masjid. Empat berada di depan dan empat penyokong lagi di belakang. Desainnya mirip rumah adat jawa, Joglo. 

"Sebelum dibangun oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojorkerto, dulu masjid ini berdinding gedhek atau anyaman bambu. Masjid ini juga dibangun dengan satu pintu, berbeda kebanyakan masjid kuno lainnya yang dibangun dengan tiga pintu," ujar H Hamid. 

"Pada 1997 lalu, masih lengkap 30 kitab kuno tersebut. Karena dimakan usia, terkena hujan dan dimakan hewan rengat, sekarang tinggal 17 kitab kuno yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Apalagi, kami tidak tahu cara merawat kitab-kitab tersebut," ujar  Hamid. 

Lain di At-Taqwa lain pula di Masjid Wakaf Kyai Haji Abdul Rohman, yang terletak di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. Di masjid dengan usia lebih tua sekitar 15 tahun atau dibangun sekitar tahun 1835, ini tak menyisakan satu pun kitab. Masjid ini malah menyisakan, belasan pusaka yang dikisahkan berasal dari Kerajaan Majapahit. 

Masjid cagar budaya dengan kubah batu dengan delapan kayu penopang ini, sama dengan At-Taqwa, juga mempunyai sumur yang dipercaya bisa menambah semangat hidup. Karena menurut sejumlah ahli air dari sumur ini mengandung banyak mineral. "Memang dari segi arsitektur, hampir sama dengan masjid yang ada di Parang. Yang membedakan, masjid ini dibangun dengan tiga pintu dan dua tingkat pada atap. Mengenai kubah masjid, dibangun sama dengan Masjid At-Taqwa, yaitu dari batu," ujar salah satu anak turun Kyai Haji Abdul Rohman, H Gunawan Hanafi, 60. 

Masjid ini juga tak dibangun dengan kayu jati, namun dibangun dan ditopang dengan Kayu Sono yang pengerjaannya belum menggunakan penghalus. Jadi, beberapa kayu masih terlihat kasar. Tetapi tidak mengurangi kesan kokoh dari masjid yang dibangun di atas tanah seluas 20 meter pesegi.

Sumber http://arkeologi.web.id/

Tagedi Jembatan Jati Lihat Sapi Hanyut, 25 Orang Hilang

SEMEN .Dua korban yang sudah teridentifikasi ialah Basuki, 16, warga Desa Purworejo, Kecamatan Kebonsari, dan Alif, 16, warga Dusun Dodol, Desa Petungrejo, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. “Korban yang sudah pasti hilang terbawa arus baru dua. Tapi, menurut saksi mata, jumlahnya lebih dari 25 orang,” terang Kapolres Magetan AKBP Bambang Sunarwibowo saat dikonfirmasi melalui AKP Sunarta, Kapolsek Takeran, di lokasi kejadian.

Peristiwa maut tersebut terjadi sekitar pukul 15.00. Arus air Kali Madiun yang meluap membuat penduduk sekitar penasaran. Di jembatan Jati-Semen tersebut, warga berjajar menyaksikan luapan air sungai.

Di tempat tersebut, ada rumpun bambu yang nyangkut di pilar jembatan bagian tengah. Tiba-tiba sekelompok warga mengetahui ada sapi yang hanyut. Tak urung, penonton berduyun-duyun. Tanpa diduga, tiba-tiba jembatan bergerak, lalu ambrol dan putus setengah.

Akibatnya, warga yang berada di atas jembatan jatuh dan hanyut terbawa arus sungai. “Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Saat itu banyak warga yang duduk di atas jembatan dan terjatuh. Kira-kira sekitar 25 orang, bahkan lebih,” terang Slamet, warga Desa Pojok yang saat itu berada di lokasi.

Diduga, putusnya jembatan yang terbuat dari besi itu disebabkan ambrolnya fondasi jembatan. Selain itu, juga disebabkan derasnya arus sungai serta hantaman pohon bambu yang menyangkut badan jembatan. “Di atas jembatan juga banyak sepeda motor. Jadi, ya ikut tenggelam,” ungkap Slamet.

Hal tersebut dibenarkan Atik Komariah, 20, warga Desa Pucang Anom, Kecamatan Kebonsari. Saat itu, Komariah berboncengan dengan Tika sedang melintasi jembatan. Tiba-tiba, dia merasakan getaran dari badan jembatan. Keduanya langsung turun dan lari menjauhi meski sepeda motornya tertinggal. “Alhamdulillah, saya selamat meski sepeda motor saya hanyut,” kata Atik.

Hingga petang kemarin, belum ada regu penyelamat yang turun tangan mencari korban. Selain jembatan Jati-Semen, satu jembatan utama yang menghubungkan Kebonsari dan Nguntoronadi kemarin juga ditutup. Pasalnya, poros jembatan itu terlihat patah. “Daripada nanti menimbulkan korban, lebih baik ditutup sementara dulu,” ujar Sofian, warga setempat.

Informasi lain menyebutkan, ada lima sepeda motor yang tenggelam. Selain itu, satu unit mobil Izusu Phanter juga hanyut.

Kapolres Madiun AKBP Andhi Hartoyo saat ditemui di lokasi kejadian mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan jumlah korban yang hanyut akibat jembatan Jati (Madiun)-Semen (Magetan) terputus. “Melihat rekaman kamera video dari HP anak buah sesaat sebelum kejadian, bisa lebih dari dua puluh orang yang hanyut.” terang Andhi.

Kepala Desa Rejosari (Kebonsari-Madiun/desa terdekat dari lokasi jembatan putus) Zainal Arifin mengatakan, sebagian besar korban bukan warga sekitar. “Kalau tenggelamnya di sini (Jati), mungkin lokasi penemuannya bisa di Bojonegoro. Tapi, bisa juga di wilayah Madiun karena mayatnya nyangkut,” ungkapnya.

Sumber :http://www.jasaraharja.co.id/lihat-sapi-hanyut-25-orang-hilang,4400.html

Warga Simbatan Kuras Candi Dewi Sri untuk Tolak Balak

Simbatan - Ratusan warga Desa Simbatan Kecamatan Nguntoronadi, Magetan disibukkan melakukan ritual tolak balak bencana dengan membersihkan patung Candi Dewi Sri yang ada di desa setempat. Ritual membersihkan candi tersebut dengan menguras air di sekeliling candi yang dipenuhi air hingga menenggelamkan patung tersebut.

Bangunan Candi Dewi Sri memang menjorok ke dalam seperti dalam kubangan kolam yang dipenuhi air dan berlumpur. Sehingga warga membersihkan bangunan tersebut.

Sekretaris Desa Simbatan, Titik Agustin mengatakan ritual dilakukan rutin sejak nenek moyang zaman Kerajaan Majapahit. Ini dipercaya warga sebagai tolak balak datangya bencana.

"Kita rutin adakan ritual seperti ini setiap hari Jumat pahing di bulan syuro. Puncaknya nanti ada penarian ikan dengan lagu wajib kembang jeruk yang dinyanyikan oleh 2 sinden yag telah disiapkan," kata Titik kepada wartawan di lokasi.

Titik menambahkan sebelum acara tarian, terlebih dulu ada sesaji dengan memotong satu ekor kambing. Dengan menanam kepala kambing di sekitar lokasi candi beserta sesaji lain. Terdiri dari candu, minuman limun merah dan putih, bedak, sisir, minyak srimpi dan kaca yang dipercaya akan digunakan Dewi Sri untuk keperluannya.

Untuk kelengkapan sesaji tersebut, para warga yang menguras kolam Candi Dewi Sri disuguhkan nasi bungkus dengan lauk sayur terong serta kacang-kacangan yang konon sangat disukai Dewi Sri.

Dari pantauan detiksurabaya.com, warga yang datang mulai pagi hingga siang ini tampak memadati lokasi Candi Dewi Sri di Desa Simbatan Kecamatan Nguntoronadi, kurang lebih 25 Km arah timur dari pusat Kota Magetan.

Sementara Mardjono Kasubdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan menambahkan, Candi Dewi Sri akan direnovasi untuk dijadikan obyek wisata dan sudah masuk dalam situs sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit sehingga setiap kegiatan apapun di candi tersebut harus izin dengan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP 3) Trowulan, Mojokerto.

Sumber:http://news.detik.com/read/2009/01/09/145055/1065759/475/warga-magetan-kuras-candi-dewi-sri-untuk-tolak-balak