Selasa, 03 Maret 2015

Asal usul Kali "Gandong"



Magetan asal usul kali ini akan berbagi tentang Asal usul Kali Gandong Magetan. Kali Gandong ini adalah sungai yang melintasi tengah kota Magetan, dan nama Kali (sungai) Gandong ini sudah familiar di telinga warga Magetan, namun cerita asal usul nama sungai ini dinamakan dengan Kali Gandong tidak semua warga Magetan itu mengetahuinya.
Cerita penamaan sungai ini berawal dari ketika Kyai Mageti bersemedi di suatu tempat yang asing dan suasananya hening di dalam hutan, yang saat ini di kenal dengan Desa Magetan. Belum lama beliau bersemedi, beliau beliau terganggu dengan suasana gemuruh yang berasal dari arah barat. Adapun suara itu adalah suara air bah yang mengalir dengan deras seperti air bah yang datang di waktu musim penghujan, padahal waktu itu adalah musim kemarau, dan ternyata air bah itu adalah air yang di giring oleh orang sakti yang bernama Djoko Segondang.
Djoko Segondang dengan bangganya berjalan dengan diikuti oleh air bah yang melimpah-limpah itu tiba-tiba berhenti sebelum menerjang tempat bersemedinya Kyai Mageti, dikarenakan Djoko Segondang tidak bisa melihat jalan didepannya. Djoko Segondang tidak bisa menentukan arah kemana ia harus mengarahkan air air bah tersebut, karena pandangannya tersa gelap gulita, iapun berguman "Ini pasti ada orang sakti yang sedang bertapa!".
Karena merasa ada orang sakti yang sedang bertapa di depannya, maka Djoko segundang mengucapkan salam "Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh". Anehnya setelah Djoko Segondang mengucapkan salam tiga kali, penglihatannya semakin terang dan cuaca yang gelap gulita itupun semakin lama semakin terang juga. Djoko segondang memandang kedepan tampak samar-samar ada orang yang duduk bersemedi.
Setelah merasa yakin bahwa yang bersemedi didepan itu adalah manusia, maka Djoko Segondangpun dengan penuh kesopanan membangunkan orang yang bersemedi itu yang tidak lain adalah Kyai Mageti. Setelah Kyai Mageti itu menghentikan semedinya sejenak , maka keduanyapun berbincang-bincang dengan akrabnya dan saling menghormati.
Djoko Segondang mengaku berasal dari dukuh Segalih desa Gonggang, yang letaknya di sebelah selatan Plaosan. Djoko Segondang memberitahukan kepada Kyai Mageti bahwa ia sebenarnya bertujuan untuk menuju ke Madiun untuk bertemu dengan Bapaknya.
Mendengar penuturan dari Djoko Segondang itu, Kyai Mageti termenung sejenak dan akhirnya berkata: "Apabila ki sanak akan berjalan terus menuju arah timur, pasti tidak kuat!", maksud dari Kyai Mageti adalah agar Djoko Segondang tidak menerjang tempat semedinya.
Kemudian Kyai Mageti melanjutkan perkataanya:" Agar perjalanan ki sanak tidak terganggu dan kuat, ki sanak harus berbelok ke utara sedikit, dan selanjurnya membelok ke timur!"
Mendengar perkataan Kyai Mageti tersebut, Djoko Segondang menurutinya, dan karena peristiwa itu Djoko Segondang berkata: " Besuk kalau ada ramainya jaman, sungai yang saya belokkan ini saya beri nama Lepen Gandong!". Sedangkan kedung tempat Kyai Mageti bebincang bincang dengan Djoko Segondang di namakan Kedung Salam, karena Djoko Segondang memberikan salam tiga kali kepada Kyai Mageti

Sumber : https://id-id.facebook.com/MagetanKotaWisata

Selasa, 24 Februari 2015

Cagar Budaya di Magetan Terancam Punah

Parang, Dua cagar budaya berupa masjid tua di Magetan, Jawa Timur, kian terancam, karena tidak dapat perhatian dari pemerintah. 

Salah satu masjid tersebut diberi nama At-Taqwa pada 1970-an. Masjid ini dipercaya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Masjid dengan kubah batu tersebut dibangun oleh salah seorang Punggawa Magetan, H Imam Nawawi. Hingga saat ini, masjid tersebut masih dipercayakan kepada salah satu menantunya, H Hamid, 65. 

H Hamid mengisahkan, Masjid cagar budaya At-Taqwa berdiri sejak 1850 di Dusun Badegan, Desa Tegal Arum, Kecamatan Parang, Magetan ini dibangun dengan luas sekitar 8x20 meter. Masjid ini diangun dengan delapan kayu jati yang menopang berdirinya atap masjid. Empat berada di depan dan empat penyokong lagi di belakang. Desainnya mirip rumah adat jawa, Joglo. 

"Sebelum dibangun oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojorkerto, dulu masjid ini berdinding gedhek atau anyaman bambu. Masjid ini juga dibangun dengan satu pintu, berbeda kebanyakan masjid kuno lainnya yang dibangun dengan tiga pintu," ujar H Hamid. 

"Pada 1997 lalu, masih lengkap 30 kitab kuno tersebut. Karena dimakan usia, terkena hujan dan dimakan hewan rengat, sekarang tinggal 17 kitab kuno yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Apalagi, kami tidak tahu cara merawat kitab-kitab tersebut," ujar  Hamid. 

Lain di At-Taqwa lain pula di Masjid Wakaf Kyai Haji Abdul Rohman, yang terletak di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. Di masjid dengan usia lebih tua sekitar 15 tahun atau dibangun sekitar tahun 1835, ini tak menyisakan satu pun kitab. Masjid ini malah menyisakan, belasan pusaka yang dikisahkan berasal dari Kerajaan Majapahit. 

Masjid cagar budaya dengan kubah batu dengan delapan kayu penopang ini, sama dengan At-Taqwa, juga mempunyai sumur yang dipercaya bisa menambah semangat hidup. Karena menurut sejumlah ahli air dari sumur ini mengandung banyak mineral. "Memang dari segi arsitektur, hampir sama dengan masjid yang ada di Parang. Yang membedakan, masjid ini dibangun dengan tiga pintu dan dua tingkat pada atap. Mengenai kubah masjid, dibangun sama dengan Masjid At-Taqwa, yaitu dari batu," ujar salah satu anak turun Kyai Haji Abdul Rohman, H Gunawan Hanafi, 60. 

Masjid ini juga tak dibangun dengan kayu jati, namun dibangun dan ditopang dengan Kayu Sono yang pengerjaannya belum menggunakan penghalus. Jadi, beberapa kayu masih terlihat kasar. Tetapi tidak mengurangi kesan kokoh dari masjid yang dibangun di atas tanah seluas 20 meter pesegi.

Sumber : http://arkeologi.web.id/